Reno berjalan pelan sambil sesekali memainkan gitarnya sore ini. Semilir angin mengacak rambutnya yang sudah agak gondrong. Cowok bertubuh tinggi kurus itu sedang menjelajahi kompleks perumahan tempatnya tinggal. Ia sekeluarga baru saja pindah kemarin.
Reno memandang sekelilingnya. Blok yang ini sepi banget... batinnya heran. Rumah-rumah yang dilewati Reno memang tak tampak ada tanda-tanda kehidupan. Padahal di blok sebelumnya, Reno berjumpa dengan anak-anak yang berlarian dan bermain di depan rumah, penjual makanan lewat, dan sebagainya.
“You are the only exception... You are the only exception...” Reno bersenandung pelan menyanyikan lagu The Only Exception milik Paramore, sambil memetik gitar.
“Suaramu bagus...”
Celetukan yang muncul secara tiba-tiba membuat cowok berkacamata itu melonjak 30 cm dari tanah saking kagetnya. Wajar Reno sedemikian kaget. Reno merasa tadi tidak ada siapapun di sekitarnya.
Reno menoleh ke samping. Ternyata di balik pagar besi tinggi, di teras sebuah rumah bercat pastel, duduklah seorang gadis manis berambut sebahu. Reno menerka gadis itu mungkin berusia sekitar 15-16 tahun, seusianya. Gadis yang memakai sweater kedodoran itu tersenyum pada Reno dengan wajah pucatnya.
Semilir angin lewat lagi, membuat bulu kuduk Reno merinding. Sigh, pasti bentar lagi hujan, batinnya kesal. Sebab, ia merasa mendadak kedinginan meski sedang memakai jaket. Reno merapatkan jaketnya dan melangkah mendekat ke depan pagar tinggi bercat hitam itu.
“Hai... Kirain nggak ada orang tadi,” Reno nyengir sambil membetulkan letak kacamata berframe putih miliknya yang sedikit melorot karena terlonjak tadi.
Gadis itu tersenyum lagi, masih memandangi Reno lekat-lekat, membuat Reno sedikit grogi dipandangi terus seperti itu.
“Aku yang harusnya minta maaf. Udah ngagetin kamu sampai lompat gitu. Tadi itu lagunya Paramore ya? Aku suka banget nyanyi itu. Nyanyiin lagi dong buat aku,” pintanya.
Reno tertawa. Sebenarnya dalam hati dia heran juga. Nih anak, bukannya bukain pagar, nyuruh Reno duduk, atau kenalan dulu kek.
“Oh iya, namaku Reno. Kamu?” Reno mendekat dan mengulurkan tangan lewat balik jeruji pagar, memancing si gadis biar setidaknya mendekat atau membukakan pagar. Soalnya, Reno merasa aneh jika harus berbincang-bincang dari balik pagar.
Bukannya mendekat, si gadis tetap diam di tempat duduknya di teras. Pandangan matanya sedih dan meredup. “Maaf, aku dilarang mama buka pagar, keluar rumah, atau bersentuhan dengan orang asing,” jelasnya pelan.
Reno menurunkan kembali tangannya, merasa agak tersinggung. Bersentuhan dengan orang asing? Emangnya aku penjahat apa? Trus aku harus berdiri disini, dibalik pagar, sambil ngobrol nih? Aneh!
Meski begitu, entah kenapa Reno tidak beranjak, serasa ingin terus menemani gadis yang terlihat kesepian itu. “Oh, jadi kita ngobrolnya dari balik besi gini dong ya? Berasa tahanan, hehe...” candanya.
Si gadis malah terdiam dan makin tampak muram, membuat Reno langsung merasa bersalah. Reno mengaruk-garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal. Salah tingkah. “Eh... Emm.. Tapi nggak papa kok ngobrol begini. Namamu siapa?” tanya Reno lagi, berusaha mencairkan suasana.
“Sadiva.”
“Good name.”
“Makasih.”
Sadiva tersenyum lagi, yang membuat Reno lega.
“Ayo nyanyiin, katanya tadi mau nyanyi?”
Reno tertawa dan entah kenapa menurut saja. Padahal biasanya Reno ogah kalau disuruh-suruh nyanyi gitu. Dia biasanya bermain gitar dan menyanyi kalau dia lagi ingin, bukan karena disuruh.
Reno memetik gitar dan melantunkan The Only Exception nya Paramore. Dia merasa sangat senang ketika Sadiva terus menerus tersenyum ketika dia menyanyi. Bahkan Sadiva ikut bersenandung dengan indahnya. Ingin rasanya dia terus menyanyi untuk menghibur Sadiva. Ingin melihat Sadiva tersenyum bahagia sambil bersenandung bersamanya seperti itu terus. Meski hanya di balik pagar.
Reno berusaha bertanya-tanya tentang Sadiva, tentang sekolahnya, dan sebagainya. Tapi Sadiva benar-benar misterius, dia sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan Reno. Gadis yang aneh. Dia hanya bersenandung terus tanpa henti bersama Reno.
Tak terasa waktu beranjak malam.
“Hei, udah maghrib, bentar lagi malem. Sungkan aku kalau berdiri di sini sampai malem, hehe. Aku balik ya?” pamit Reno.
Sadiva tampak sedih lagi. Wajahnya kembali muram. “Tenang, besok aku dateng lagi deh,” janji Reno.
Sadiva tersenyum. “Nggak usah, nggak papa. Aku udah senang banget kok. Makasih ya udah nyanyiin dan mainin lagu itu buat aku. Seneng banget aku bisa bernyanyi bersamamu.”
***
Esok sorenya, sepulang sekolah, Reno tidak sabar untuk menemui si gadis manis yang sedih itu. Tapi teras rumah itu sepi, pagarnya juga digembok seperti biasa. Reno berulang kali memencet belnya, tapi tak ada tanda-tanda ada orang di dalam.
Ah, mungkin sedang pergi sekeluarga, batin Reno. Entah mengapa ia merasa kecewa tak dapat bertemu dengan Sadiva. Ia ingin sekali menyanyi untuk Sadiva, mendengarkan Sadiva ikut bersenandung bersamanya.
Keesokan harinya, rumah itu tetap tampak kosong. Begitupun keesokannya lagi, hingga seminggu. Tak ada tanda-tanda Sadiva ataupun keluarganya disitu. Apa mereka pergi berlibur lama? Tapi ini kan bukan musim liburan.
“Nyari siapa nak? Kok perasaan tiap sore, nongkrong di depan rumah itu?” tanya satpam kompleks yang posnya tidak jauh dari rumah Sadiva.
“Oh, itu lho pak. Sadiva. Tahu nggak pak? Cewek seusia saya itu lho. Bapak tahu nggak mereka sekeluarga dimana? Kok rumahnya sepi?”
Pak satpam paruh baya tersebut tampak mengernyitkan alis. Kebingungan. “Hah? Nak Sadiva?”
“Iya pak, kenapa?” Reno heran melihat perubahan rona wajah pak satpam yang tampak pucat.
“Astaga, nak. Kamu ketemu nak Sadiva? Kapan?”
“Seminggu yang lalu pak. Tapi cuma hari itu aja pak. Habis itu nggak pernah kelihatan lagi dia. Kenapa pak?”
Pak satpam menghela napas sambil menerawang jauh. “Kasihan dia. Dia sakit-sakitan nak. Jadi sama orang tuanya ndak dibolehin keluar dari rumah. Padahal nak Sadiva itu suaranya buagus. Bisa jadi penyanyi terkenal dia, kalau saja ndak sakit parah,”
“Iya pak. Suaranya bagus! Dia nyanyi bareng saya waktu itu”
Pak satpam tiba-tiba bergidik. “Nak... Sadiva itu.. sudah dipanggil yang Kuasa sekitar... tiga bulan yang lalu...”
“Hah?”
“Iya, setelah itu ayah ibunya pindah rumah. Mungkin saking sedihnya. Makanya rumah itu kosong sejak saat itu nak. Kamu yakin bertemu dengannya?”
Reno cuma bisa terpana saking shock-nya. Dipegangnya gitarnya erat-erat. Gitar yang menjadi saksi bisu pertemuannya dengan Sadiva.
Sadiva dengan senandung indahnya.
***
Ditulis oleh @hildabika