Posterous theme by Cory Watilo

Juara Satu

Dear B,

Apa kabar? Sekitar 18 tahun lebih lamanya kita tidak bertemu. Sejak aku pindah dari ibukota. Sejak kelulusan SD, yang bahkan tak kuhadiri pesta perpisahannya.
Aku bahkan belum sempat mengucapkan kata-kata perpisahan denganmu. Belum sempat mengucapkan kata-kata yang ingin kuucapkan padamu waktu itu.

Aku tahu kau tak akan membaca surat ini. Aku bahkan tidak bisa menemukan twittermu. Tapi mungkin, suatu hari nanti, entah bagaimana surat ini akan sampai padamu.

Kalau ditanya siapa cinta pertamaku (akupun tak yakin itu cinta pertama atau cinta monyet), tapi yang muncul dalam ingatanku adalah kamu, B.
Iya, kamu yang punya nama panggilan berhuruf depan yang sama dengan huruf depan nama panggilanku, Bika.
Dan kebetulan, kamu punya nama panggilan yang sama dengan salah satu mantan pacarku.
Iya, sama persis.
Betapa lucu ketika aku mengingat, aku pernah jatuh cinta pada dua lelaki yang berbeda, dengan satu nama yang sama.

B,
Bahkan setelah 18 tahun lamanya kita tidak bertatap muka, aku masih mengingat dengan jelas bagaimana mata sipitmu ikut tersenyum ketika kau tersenyum kepadaku.
Bagaimana kau selalu menjadikanku saingan juara satu di kelas.
Bagaimana takdir mempertemukan kita sebangku dengan sistem rolling bangku yang ditentukan oleh Ustad Rois, wali murid kita di kelas 4.
Bagaimana kau selalu membandingkan hasil ujianmu dengan ujianku.
Bagaimana kau menggelitik pinggangku setiap aku ngambek.
Bagaimana kau tersenyum jahil meledekku jika kau berhasil menyelesaikan ujian lebih dulu daripadaku.
Bagaimana kau meledekku dengan heboh, hanya karena teman kita - Jaka - pernah menyatakan cintanya padaku (Kata ustad Rois, kau cemburu, benarkah itu?).
Bagaimana kau mengkhawatirkanku ketika aku sakit di kelas. Bagaimana kau membuatku mengagumimu karena kau anak laki-laki yang rajin sholat.
Bagaimana kau selalu menjahiliku, tapi selalu bisa membuatku tertawa.


Ah,
Satu yang paling kuingat jelas :
Bagaimana kau merebut hatiku.

Kau selalu berebut juara satu di kelas denganku, B.
Tanpa kau tahu, kau selalu menjadi juara satu di hatiku.

Tapi itu dulu, B.
Kini sudah 18 tahun berlalu, aku bahkan tak tahu kabarmu.
kabar terakhir yang aku tahu dari facebookmu (ketika dua tahun lalu aku iseng mencari tahu kabarmu, dan aku kini hampir tidak pernah menyentuh facebook-ku, B) adalah kau akan bertunangan dengan kekasih yang kau pacari lebih dari 5 tahun.

Jadi, kuanggap kesempatanku untuk menyampaikan perasaanku padamu sudah habis.
Kau tidak akan pernah tahu.

Tapi tak apa, cukup aku yang tahu, bahwa pada suatu masa,
kau pernah menjadi juara satu di hatiku.


Dari pesaingmu berebut juara satu di kelas,
@hildabika


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Sepucuk Surat (Bukan) Untukmu

 

Dear Mas,

 

Hujan datang sepanjang sore. Aku benci hujan. Karena aku harus memakai jas hujan. Dan memori tentangmu yang memakaikanku jas hujan kemudian mengancingkan jas hujan itu, memeriksanya apakah sudah membungkusku dengan aman, menyeruak begitu saja di depan mataku. Jas hujan darimu. Bayangan tentangmu.

Lantas, bagaimana bisa aku melupakanmu? Jika hujan terus saja datang.

Bagaimana bisa aku melupakanmu, jika ketika aku datang ke undangan pernikahan temanku yang muncul di depan mataku adalah bayangan bagaimana waktu itu kau memberiku surprise berupa sarimbit batik untuk kupakai dan kau pakai ke pernikahan mantanku. Sepasang. Seperti kita yang saling sayang. Dan kini, pasangan batikku menghilang.

Bagaimana bisa aku melupakanmu jika ketika aku ingin membeli bubur ayam kesayanganku, yang muncul di depan mataku adalah bayangan bagaimana kau menjemputku sepulang lembur, kemudian ku mengajakku berputar-putar keliling kota dengan mobilmu, hanya demi menunggu tukang bubur ayam kesukaanku buka. Bagaimana kau yang benci sekali bubur ayam mau menemaniku makan bubur ayam, bahkan ikut mencicipinya.

Bagaimana bisa aku melupakanmu jika ketika aku lewat taman kota, yang muncul di depan mataku adalah bayanganmu yang mengajakku jalan-jalan sore di taman kota. Kau membawakanku bekal kotak. Kita bergandengan tangan, tertawa, kemudian aku bersandar di bahumu. Kita berdua makan bekal masakan ibumu.

Bagaimana bisa aku melupakanmu jika ketika malam ulangtahunku, tepat jam 12 malam, yang muncul di depan mataku adalah bayangan bagaimana kau meneleponku di tengah rapat tengah malamku, kau bilang kau sudah menungguku di parkiran. Bagaimana ketika aku melangkah ke parkiran, ternyata di dalam mobilmu, kau sudah menyiapkan kue tart coklat kesukaanku dengan lilin-lilin kecil di atasnya. Kue itu pilihan ibumu, katamu. Ah, betapa bahagianya aku. Saat itu.

Bagaimana bisa aku melupakanmu jika ketika aku akan pergi ke luar kota atau ke luar negeri, yang muncul di depan mataku adalah bayanganmu mengantarku. Bagaimana ketika aku akan turun dari mobilmu, kau selalu menarikku, menahanku seakan kau sangat berat melepasku. Seakan kau tak rela berpisah sebentar saja dariku. Selalu begitu ketika aku akan turun dari mobilmu. Seakan kau ingin aku tetap disitu. Seakan kau ingin aku tetap disisimu.

Lalu,  mengapa akhirnya kamu melepasku?

Jas hujan. Taman kota. Bubur ayam. Ulang tahun. Kejutan. Musik di mobilmu. Lampion. Notes-Notesmu. Tawamu. Manjamu. Suaramu. Teleponmu.

Bagaimana bisa aku melupakanmu?

 

Dari yang masih pernah tertawan olehmu,

Aku

 

Kupandang layar laptop di depanku. Kemudian, beralih ke surat undangan di mejaku.  Undangan pernikahanmu dengan teman baikku. Ah, kali ini aku harus kembaran batik dengan siapa, mas? Aku tersenyum kecil.

Kemudian kembali memandang layar laptopku.

 

 Delete Messages?

Yes.

 

***

 

 

*FIKSI ini ditulis ketika menyadari jas hujan saya tertinggal di rumah,

(hil)

Mari Berbagi Mimpi

Dear kamu yang di situ,

Aku punya banyak impian. Yang kukumpulkan dan kurajut pelan-pelan. Mulai dari yang nyata hingga yang serupa khayalan.

Aku ingin berguna bagi banyak orang dan mencipta kenangan. Menjadi penulis yang meninggalkan warisan berupa tulisan. Dengan begitu namaku akan abadi hingga akhir zaman.

 

Suatu hari nanti, aku akan menulis tentangmu. Tentang kita.

Untuk kau baca di hari tua. Tertawa bersama anak cucu kita.

 

Aku juga ingin keliling dunia. Mencicipi budaya baru. Berkunjung ke tempat-tempat baru. Bersamamu.

Berjalan bergandengan tangan berdua di depan Eiffel. Duduk manis naik gondola di Venezia. Bermain salju di Korea. Atau meracik coklat di Belgia.

Mendaki gunung, mencicipi pantai indah tak terjamah, atau berkeliaran mengintip semua kekayaan alam Indonesia.

 

Aku juga ingin punya perpustakaan kecil milikku sendiri. Tempat kita membaca buku kesukaan kita masing-masing. Saling bersandar dengan nyaman.

Kalau kau tidak suka membaca buku, biar aku yang bercerita dan mendongeng untukmu. Atau, kita bisa bercinta di sela-sela rak buku itu.

Dan masih banyak lagi yang lainnya. Yang akan kuceritakan padamu nanti. Saat kita bersama nanti.

Tapi yang pasti, mimpi-mimpiku itu akan sempurna, bersamamu.

Ya. Sempurnaku, bersamamu.

 

Bagaimana denganmu? Apa saja mimpi-mimpimu?

Datanglah kemari. Mari berbagi mimpi.

Merajut mimpimu dan mimpiku. Merajut mimpi kita.

Berdua.

 

 

Dariku, yang sabar menunggumu datang — siapapun nanti dirimu,

(hil)

Tak Pernah Bisa

Buryam

 

“Kausmu terbalik…”

 Aku menoleh sebentar ke arahmu, sementara tanganku sibuk membuka bungkusan bubur ayam yang berhasil aku dapatkan di perjalanan menuju rumahmu.

Kau yang sedang terbaring di sofa, tersenyum lemah. Geli melihat rupaku yang aku yakin acak-acakan.

            Kulihat sepintas kaus yang kupakai. Ah.. memang benar terbalik. Aku hanya mengedikkan bahu sambil lalu. “Tadi keburu-buru.”

            Debar jantungku masih sama cepatnya ketika aku menerima pesan singkatmu satu jam yang lalu.

Aku sakit. Bisa datang ke sini? Aku takut.

            Kau tahu? Membacanya membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Secepat kilat aku meraih kunci motor dan berangkat menuju rumahmu.

Tak lupa mampir ke apotik 24 jam, karena tahu dengan pasti di rumahmu tak ada persediaan obat. Tak lupa pula mampir ke tukang bubur ayam favoritmu.

“Ayo dimakan…” kusodorkan bubur ayam dengan tambahan ati kesukaanmu yang masih mengepul itu.

            Kau menggelengkan kepala. “Nggak napsu.”

            Kuhela napas. Selalu begitu.

            “Ayo buka mulut.” Kali ini kusendokkan bubur itu, lalu kusorongkan ke depan bibirmu.

            Kamu tersenyum tipis, lalu membuka mulut, melahap bubur itu dengan cepat.

            Dasar manja…

            “Mana Romeo?”

            Kau terdiam. Pandanganmu meredup. Seakan ada yang memadamkan sinar dari mata indahmu. Sebenarnya, tanpa kau jawab pun aku sudah tahu jawabannya.

            Lelaki itu muncul menghilang sesuka hatinya. Bahkan lebih sering meninggalkanmu ketimbang menemanimu. Cih…

            Kita berada dalam keheningan selama kau melahap tiap suapan dari tanganku.

            “Sekarang obatnya…”

            Kutarik selimut sampai ke dagumu seusai kau minum obat penurun demam itu.

            “Yakin tak mau pindah ke kamar?”

            Kau menggeleng dengan cepat. “Nggak. Aku mau nunggu dia pulang.”

            Kutelan ludah dengan susah payah.

            “Baiklah, aku pulang. Kalau ada apa-apa…”

            “…aku akan meneleponmu,” potongmu cepat, lalu tersenyum manis.

            Kuhela napas, memandangmu sekali lagi yang sudah menutup mata, siap tidur dengan pulas.

            Namun, baru saja aku melangkah menuju pintu untuk memadamkan lampu dan keluar dari rumahmu, kudengar suaramu memanggilku.

“Reno…”

 Aku berhenti. Berbalik. “Ya?”

Setengah berharap kau akan memintaku tinggal.

“Terima kasih ya. Hati-hati di jalan.”

Aku tersenyum kecut dan mengangguk, lalu kupadamkan lampu.

            Tapi satu yang tak pernah bisa kupadamkan :

Perasaanku padamu.

 

***

 

 

ditulis oleh @hildabika dalam waktu 20 menit menjelang pukul 24.00

dalam rangka #FFdadakan yang diadakan oleh @nulisbuku

dengan tema lagu Harusnya Kau Pilih Aku - Tere

Separuh Diriku

Separuh

 

Kata orang rindu itu indah.

Namun bagiku ini menyiksa.

 

            Rembulan bersinar cerah di langit malam. Debur ombak mengalun seirama di tepi pantai ini. Kupeluk lututku erat-erat.

Tubuhku mulai menggigil. Sebaliknya, kurasakan mataku mulai memanas. Bulir-bulir bening itu mendesak ingin keluar. Kerongokonganku tercekat.

Dapat kurasakan deburan jantungku sendiri berlomba dengan ombak di hadapanku.

            Aku merindukanmu. Tawamu. Senyummu. Tatapan hangatmu. Dekapmu. Suaramu.

Merindukanmu seperti candu. Semakin lama, semakin menggila.

            Kupejamkan mataku erat-erat. Kupanggil namamu keras-keras dalam hati.

Katamu, kapanpun aku merindumu, aku cukup memejamkan mata dan memanggil namamu, lalu... simsalabim! kau pasti akan muncul di hadapanku.

            Dimana dirimu? Butiran bening itu kini mulai tumpah ruah. Mengalir hangat di kedua pipiku.

Kutenggelamkan wajahku di balik lututku. Mengisak keras-keras. Sakit. Terlalu sakit.  Teringat jelas bahwa terakhir kali kenangan sebelum kau pergi adalah pelukanmu dan senyuman hangatmu. Datanglah, Lex… Kumohon…

            Ssshh..

Angin berhembus membelai rambutku.

“Jangan menangis, sayang…”

            Jantungku mencelos. Suara itu!

Dengan cepat aku mengangkat muka dan menoleh ke samping. Ke arah suara yang sangat kukenal itu berasal.

            Suaramu. Ya. Itu dirimu.

Aku mengerjap.

Sekali. Dua kali. Untuk memastikan aku tidak salah lihat. Pandangan mataku kabur oleh airmata.

            Namun kau memang ada di sini. Duduk tepat di sampingku. Dengan wajah serupa cahaya. Menyilaukan di bawah terang bulan.

            Aku masih membisu ketika mata kita bertautan lekat.

 

Sejenak ku fikirkan untuk kubenci saja dirimu.

Namun sulit ku membenci.

           

Bagaimana mungkin aku membenci dirimu yang begitu sempurna mengisi hatiku?

Kau tersenyum. Senyum menenangkan yang sangat kukenal. Senyum yang selalu menghias hari-hariku.

            Mata kita masih bertatapan lekat.

“Lupakan aku…” bisikmu, begitu halus dan tenang. Setenang kesunyian malam ini.

            Aku mengerjap lagi. Mataku perih.

“Ba.. bagaimana bi..sa?” sahutku tercekat, memalingkan wajah dari tatapanmu yang menghujam jantungku.

“Pasti bisa, Rahne sayang…” kudengar suaramu di sela angin.

Kurasa jantungku akan meledak sebentar lagi. Tak mampu menahan rasa sakit ini. Ingin rasanya aku menjerit sekeras-kerasnya jika itu mampu melenyapkan semua sakit ini.

Bagaimana bisa aku melupakanmu? Melupakan kecupan hangatmu di pagi hari untuk membangunkan pulasku, melupakan suaramu yang menyanyi meski tak merdu untuk menghiburku, melupakan tawamu tiap melihat tingkahku, melupakan dekapmu yang tiba-tiba dari belakang punggungku, melupakan semua dansa kita ketika penat dunia melanda.  Bagaimana bisa, Alex?

Airmataku sudah kembali menderas. Selama beberapa saat, kau membiarkan aku menangis sepuasku.

“Aku mencintaimu, bodoh!” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Kutatap lagi matamu untuk memastikan kau memahami dan meresapi kata per kata yang kuucapkan dengan lantang barusan.

Kau mengangguk singkat. Senyum itu tak pernah lepas sedikit pun dari bibirmu.

“Aku tahu, Rahne. Aku tahu itu. Aku pun mencintaimu. Lebih dari yang kau tahu.”

Suaramu berderak diantara hembusan angin. Namun dapat kudengar dengan sangat jelas seakan kau membisikkannya tepat di telingaku. Seperti dulu.

Aku menelan ludah dengan susah payah. “Lalu... mengapa kau tega meninggalkanku, Lex? Mengapa kau meninggalkanku, secepat itu?”

Pandanganmu meredup. Seakan kata-kataku menusukmu seperti sebilah pisau, dan membuatmu perih.

“Aku tak pernah meninggalkanmu, Rahne. Tak pernah…” – kau terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, “…cukup pejamkan mata, selama kau masih bisa mengingatku, aku akan selalu ada. Ingat?”

Aku mengangguk seperti murid patuh pada sang guru. Aku masih bisa mengingat dengan jelas kata-katamu itu. Tapi perih ini masih menusuk-nusuk ulu hatiku.

“A.. aku mau dirimu yang nyata, Lex. Seutuhnya. Aku mau kita bersama seperti dulu kala. Aku mau seperti itu selamanya.”

Debur jantungku terdengar pilu.

“Aku selalu ada dan nyata, Rahne sayang. Aku selalu ada di situ…”

Jarimu menunjuk ke hatiku. Lima detik, sebelum kau menaruh tanganmu di sebelah tubuhmu lagi. Yang hanya berjarak beberapa puluh senti dari tanganku.

“Ingat itu. Jangan bimbang, sayang. Teruslah melangkah,” bisikmu.

Aku tergugu.

“Alex…” isakku.

Kuangkat tanganku. Untuk meraih jarimu, meraih tubuhmu, untuk kemudian kupeluk erat.

Ssssh…

            Dan seiring deru angin, kau menghilang. Lenyap dalam sekejap. Bahkan sebelum aku mampu mengerjap.

Yang kupeluk hanya angin. Yang kusentuh hanya butiran pasir di sampingku. Tepat di tempat kau duduk dan meletakkan tanganmu tadi.

            Dengan susah payah kutelan ludah, lagi. Jangan tanya berapa banyak airmata yang keluar.

 

Ada dan tiada cinta, bagiku tak mengapa. Namun, ada yang hilang.

Separuh diriku.

           

Bagaimana aku bisa melangkah, Alex? 

Kutengadahkan wajahku, menatap langit. Sinar rembulan di atas sana tampak separuh. Separuh tertutup awan. Separuh hilang.

Seperti hatiku. Seperti diriku. Separuh hilang.

Kau pergi dan takkan kembali ke dunia ini, Alex. Aku tahu itu. Kau takkan kembali.

Ketika kau pergi, aku yakin kau sudah tahu bahwa aku mencintaimu. Tapi ada satu yang tak kau tahu :

Kau pergi membawa separuh diriku.

 

***

 

 

Ditulis oleh @hildabika

Dalam rangka #11projects11days Nulisbuku.com , dengan tema lagu : Bimbang – Melly Goeslaw

The Missing Piece

Wish_you_were_here

Ada yang hilang. Keping yang hilang.
Semacam lubang di hati.

---

Kemarin, saya iseng blogwalking dan menemukan blog yang bagus sekali, beradadisini.wordpress.com
Saya terhenyak ketika membaca postingan yang berjudul "Footsteps."
Di situ sang penulis mempunyai orang yang menjadi pukul 3 pagi baginya. Sosok di pukul 3 pagi yang bisa membuatnya terjaga dan ingin pergi menjaga orang tersebut.

Dan tiba-tiba saja, meski sudah dikubur dalam-dalam, memori tentangmu mendesak berhamburan keluar.

---

Aku, pukul 3 pagimu. Dulu.
Masih terputar jelas dimataku, serasa itu baru kemarin.

Bagaimana aku menjadi damsel in distress, dan kamu menjadi knight in shining armor.

Bagaimana pukul 3 pagi, ketika aku pulang lembur sendirian, motorku rusak. Dan di bawah rintik hujan dini hari itu, satu-satunya yang bisa kupikirkan adalah meneleponmu.
Dan kamu datang saat itu juga.
Masih dalam balutan baju tidurmu.
Masih dengan mata merahmu.
Mungkin saja waktu itu kamu baru saja pulas tertidur. Tapi kamu datang untukku.

Yang perlu aku lakukan hanya memencet tombol call. Dan kamu langsung datang. Untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Untuk memberikan pertolonganmu.

Begitupun kemudian, ketika aku dalam masa-masa tersulitku. Ketika aku ketakutan dengan semua masalahku, butuh tempat untuk bicara, untuk berlindung.

Kamu datang.
Kamu selalu datang.

Kamu ada disana.
Kamu selalu ada.

Kamu ada untuk menatapku dalam-dalam, tersenyum lembut, mengusap kepalaku, dan berkata, "Jangan takut. Semua akan baik-baik saja."

Dan secara ajaib, rasanya beban masalahku tiba-tiba terangkat begitu saja.

Itulah kamu. Yang selalu ada untukku.
Dan itulah aku. Pukul 3 pagimu.

Itu dulu.
Kini, tentu istri dan anakmu menjadi pukul 3 pagimu.

Dan aku?
Kini, aku dihadapkan kembali pada masa-masa tersulitku.
Ketakutan pada pukul 3 dini hari. Dan kenyataan menghempasku dengan segala kepahitannya.
Kutatapi layar ponselku memandang nomormu.
Kini aku tak bisa menekan tombol call lagi. Seperti masa-masa itu.

Kini. Tidak ada lagi kamu.

Tidak ada lagi kamu, yang akan datang padaku, menatapku dalam-dalam, tersenyum padaku, mengusap kepalaku, dan berkata, "Jangan takut. Semua akan baik-baik saja."

Aku masih disini, dalam kesunyian ini, memeluk ketakutanku.
Memandang kosong ke depan.
Berharap, nanti akan ada seseorang, yang datang padaku, menatapku dalam-dalam, tersenyum, memeluk dan mengusap kepalaku, kemudian berkata, "Ada aku disini. Jangan takut. Semua akan baik-baik saja."

 

---
Ya. Kepingan itu masih hilang.
Belum ada yang bisa menambalnya kembali.

 

written at 3 am in my darkest time,

(hil)
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Senandung Sadiva

Guitar

Reno berjalan pelan sambil sesekali memainkan gitarnya sore ini. Semilir angin mengacak rambutnya yang sudah agak gondrong. Cowok bertubuh tinggi kurus itu sedang menjelajahi kompleks perumahan tempatnya tinggal. Ia sekeluarga baru saja pindah kemarin.

            Reno memandang sekelilingnya. Blok yang ini sepi banget... batinnya heran. Rumah-rumah yang dilewati Reno memang tak tampak ada tanda-tanda kehidupan. Padahal di  blok sebelumnya, Reno berjumpa dengan anak-anak yang berlarian dan bermain di depan rumah, penjual makanan lewat, dan sebagainya.

            You are the only exception... You are the only exception...” Reno bersenandung pelan menyanyikan lagu The Only Exception milik Paramore, sambil memetik gitar.

            “Suaramu bagus...”

            Celetukan yang muncul secara tiba-tiba membuat cowok berkacamata itu melonjak 30 cm dari tanah saking kagetnya. Wajar Reno sedemikian kaget. Reno merasa tadi tidak ada siapapun di sekitarnya.

            Reno menoleh ke samping. Ternyata di balik pagar besi tinggi, di teras sebuah rumah bercat pastel, duduklah seorang gadis manis berambut sebahu. Reno menerka gadis itu mungkin berusia sekitar 15-16 tahun, seusianya. Gadis yang memakai sweater kedodoran itu tersenyum pada Reno dengan wajah pucatnya.

            Semilir angin lewat lagi, membuat bulu kuduk Reno merinding. Sigh, pasti bentar lagi hujan, batinnya kesal. Sebab, ia merasa mendadak kedinginan meski sedang memakai jaket. Reno merapatkan jaketnya dan melangkah mendekat ke depan pagar tinggi bercat hitam itu.

            “Hai... Kirain nggak ada orang tadi,” Reno nyengir sambil membetulkan letak kacamata berframe putih miliknya yang sedikit melorot karena terlonjak tadi.

            Gadis itu tersenyum lagi, masih memandangi Reno lekat-lekat, membuat Reno sedikit grogi dipandangi terus seperti itu.

            “Aku yang harusnya minta maaf. Udah ngagetin kamu sampai lompat gitu. Tadi itu lagunya Paramore ya? Aku suka banget nyanyi itu. Nyanyiin lagi dong buat aku,” pintanya.

            Reno tertawa. Sebenarnya dalam hati dia heran juga. Nih anak, bukannya bukain pagar, nyuruh Reno duduk, atau kenalan dulu kek.

            “Oh iya, namaku Reno. Kamu?”  Reno mendekat dan mengulurkan tangan lewat balik jeruji pagar, memancing si gadis biar setidaknya mendekat atau membukakan pagar. Soalnya, Reno merasa aneh jika harus berbincang-bincang dari balik pagar.

            Bukannya mendekat, si gadis tetap diam di tempat duduknya di teras. Pandangan matanya sedih dan meredup. “Maaf, aku dilarang mama buka pagar, keluar rumah, atau bersentuhan dengan orang asing,” jelasnya pelan.

            Reno menurunkan kembali tangannya, merasa agak tersinggung. Bersentuhan dengan orang asing? Emangnya aku penjahat apa? Trus aku harus berdiri disini, dibalik pagar, sambil ngobrol nih? Aneh!

            Meski begitu, entah kenapa Reno tidak beranjak, serasa ingin terus menemani gadis yang terlihat kesepian itu. “Oh, jadi kita ngobrolnya dari balik besi gini dong ya? Berasa tahanan, hehe...” candanya.

            Si gadis malah terdiam dan makin tampak muram, membuat Reno langsung merasa bersalah. Reno mengaruk-garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal. Salah tingkah. “Eh... Emm.. Tapi nggak papa kok ngobrol begini. Namamu siapa?” tanya Reno lagi, berusaha mencairkan suasana.

            “Sadiva.”

            Good name.”

            “Makasih.”

            Sadiva tersenyum lagi, yang membuat Reno lega.

            “Ayo nyanyiin, katanya tadi mau nyanyi?”

            Reno tertawa dan entah kenapa menurut saja. Padahal biasanya Reno ogah kalau disuruh-suruh nyanyi gitu. Dia biasanya bermain gitar dan menyanyi kalau dia lagi ingin, bukan karena disuruh.

Reno memetik gitar dan melantunkan The Only Exception nya Paramore. Dia merasa sangat senang ketika Sadiva terus menerus tersenyum ketika dia menyanyi. Bahkan Sadiva ikut bersenandung dengan indahnya. Ingin rasanya dia terus menyanyi untuk menghibur Sadiva. Ingin melihat Sadiva tersenyum bahagia sambil bersenandung bersamanya seperti itu terus. Meski hanya di balik pagar.

Reno berusaha bertanya-tanya tentang Sadiva, tentang sekolahnya, dan sebagainya. Tapi Sadiva benar-benar misterius, dia sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan Reno. Gadis yang aneh. Dia hanya bersenandung terus tanpa henti bersama Reno.

Tak terasa waktu beranjak malam.

“Hei, udah maghrib, bentar lagi malem. Sungkan aku kalau berdiri di sini sampai malem, hehe. Aku balik ya?” pamit Reno.

Sadiva tampak sedih lagi. Wajahnya kembali muram. “Tenang, besok aku dateng lagi deh,” janji Reno.

Sadiva tersenyum. “Nggak usah, nggak papa. Aku udah senang banget kok. Makasih ya udah nyanyiin dan mainin lagu itu buat aku. Seneng banget aku bisa bernyanyi bersamamu.”

***

            Esok sorenya, sepulang sekolah, Reno tidak sabar untuk menemui si gadis manis yang sedih itu. Tapi teras rumah itu sepi, pagarnya juga digembok seperti biasa. Reno berulang kali memencet belnya, tapi tak ada tanda-tanda ada orang di dalam.

Ah, mungkin sedang pergi sekeluarga, batin Reno. Entah mengapa ia merasa kecewa tak dapat bertemu dengan Sadiva. Ia ingin sekali menyanyi untuk Sadiva, mendengarkan Sadiva ikut bersenandung bersamanya.

Keesokan harinya, rumah itu tetap tampak kosong. Begitupun keesokannya lagi, hingga seminggu. Tak ada tanda-tanda Sadiva ataupun keluarganya disitu. Apa mereka pergi berlibur lama? Tapi ini kan bukan musim liburan.

“Nyari siapa nak? Kok perasaan tiap sore, nongkrong di depan rumah itu?” tanya satpam kompleks yang posnya tidak jauh dari rumah Sadiva.

“Oh, itu lho pak. Sadiva. Tahu nggak pak? Cewek seusia saya itu lho. Bapak tahu nggak mereka sekeluarga dimana? Kok rumahnya sepi?”

Pak satpam paruh baya tersebut tampak mengernyitkan alis. Kebingungan. “Hah? Nak Sadiva?”

“Iya pak, kenapa?” Reno heran melihat perubahan rona wajah pak satpam yang tampak pucat.

“Astaga, nak. Kamu ketemu nak Sadiva? Kapan?”

“Seminggu yang lalu pak. Tapi cuma hari itu aja pak. Habis itu nggak pernah kelihatan lagi dia. Kenapa pak?”

Pak satpam menghela napas sambil menerawang jauh. “Kasihan dia. Dia sakit-sakitan nak. Jadi sama orang tuanya ndak dibolehin keluar dari rumah. Padahal nak Sadiva itu suaranya buagus. Bisa jadi penyanyi terkenal dia, kalau saja ndak sakit parah,”

“Iya pak. Suaranya bagus! Dia nyanyi bareng saya waktu itu”

Pak satpam tiba-tiba bergidik. “Nak... Sadiva itu.. sudah dipanggil yang Kuasa sekitar... tiga bulan yang lalu...”

“Hah?”

“Iya, setelah itu ayah ibunya pindah rumah. Mungkin saking sedihnya. Makanya rumah itu kosong sejak saat itu nak. Kamu yakin bertemu dengannya?”

Reno cuma bisa terpana saking shock-nya. Dipegangnya gitarnya erat-erat. Gitar yang menjadi saksi bisu pertemuannya dengan Sadiva.

Sadiva dengan senandung indahnya.

***

 

 

Ditulis oleh @hildabika

 

Kotak Paling Istimewa

Peti
 

 

Ada sebuah kotak,

yang meski dikubur sedalam apapun,

dikunci rapat seperti apapun,

tetap akan membuat kita ingin membukanya.

Lagi dan lagi.

Dan kotak itu. Meski berdebu. Meski usang. Meski tertimbun.

Meski ada kotak-kotak baru yang lebih bagus.

Akan tetap jadi yang paling istimewa.

Dan kotak itupun. Meski sudah disingkirkan dan dikubur dalam-dalam.

Akan tetap timbul ke permukaan. Kadang-kadang.

 

Jadi, jika tergoda untuk membuka kotak itu lagi.

Bukalah.

Tapi sebentar saja. Jangan terlena.

Nanti kau bisa tersedot ke dalamnya.

Jangan lupa untuk menutupnya kembali. Lalu, kubur lagi dalam-dalam.

Lupakan. Anggap kotak itu tidak ada di sana.

Meski kau tahu kotak itu di sana.

 

Ya. Kotak usang itu akan selalu istimewa.

Selamanya.

 

Namun. Akan tiba masa.

Kita lebih sering melupakan ketimbang mengingat dan menengoknya.

Suatu saat nanti. Semoga.

 

 

 

ditulis di hari hujan, dini hari

dalam sepi

 

(hil)

Heart Letter #16 : Lewat Tetesan Hujan

Hei tetesan hujan,

Tadi dia bilang padaku: " Aku ada. Dengerin deh tiap titik hujan yang jatuh. Ada salamku buat kamu di situ."

Kalau begitu, sampaikan balik salamku padanya ya.

Iya, pada dia yang nun jauh di sana.

Bilang pada malam, untuk menjaga dan mendekapnya erat, jangan biarkan dia tenggelam dalam kelam.

Meski kami terpisah jarak, aku tahu dia ada, dan aku ingin dia tahu aku ada.

 

Dari yang Sedang Bosan di Malam Minggu,

Aku